Gethuk
adalah makanan khas Magelang yang terbuat dari bahan dasar ketela pohon.
Sementara, grebeg gethuk merupakan rangkaian puncak memperingati Hari jadi Kota
Magelang yang ke-1105. Acara yang dipusatkan di alun-alun itu selalu
dinanti-nanti warga karena mereka bisa berebut menikmati makanan khas itu
dengan cara yang unik dan hanya diadakan setahun sekali.
Setelah itu, Masyarakat disuguhi dengan berbagai atraksi Jatilan dan Dayakan yang dibawakan oleh sanggar kesenian dari 3 kecamatan Kota Magelang, Tarian Tradisional yang dibawakan oleh siswi-siswi dari berbagai sekolah negeri dan swasta Kota Magelang, dan juga aneka pertunjukan tradisional lainnya yang dibawakan oleh kelompok seni lokal. Semuanya berpadu apik dengan hentakan langgam jawa hasil aransemen anak-anak bengkel Seni Universitas Tidar Magelang.
Dan
dalam penyelenggaraan yang ke 8 ini (Tradisi Grebeg Gethuk mulai diperkenalkan
pada Peringatan Hari Ulang Tahun Kota Magelang tahun 2006), Acara Grebeg Gethuk
berlangsung dengan sangat meriah. Tak kurang dari 348 personel yang berasal
dari berbagai komunitas seniman dan warga setempat yang tersebar di 17
kelurahan di Magelang ikut memeriahkan gelaran acara tahunan tersebut, termasuk
didalamnya adalah enam sanggar kesenian tradisional Kuda lumping dari kota
Magelang, antara lain kelompok “Cahyo Turonggo” Kampung Dumpoh, “Turonggo
Kencono Mudho” Nambangan Wetan, “Turonggo Putra Rama” Bogeman, “Turonggo Sakti
Mudho” Baben, “Turonggo Saputro” Nambangan Kulon, dan “Wahyu Satrio Mudho”
Ngentak. Dayakan, Kesenian Tradisional Magelang yang tak luput menjadi pemeriah
acara
Acara kemudian diakhiri dengan Prosesi puncak, yaitu Grebeg Gethuk. Dua buah Gunungan Gethuk dan beberapa gunungan hasil bumi yang sudah dipersiapkan, langsung menjadi rebutan para warga begitu instruksi grebeg’an dibuka oleh Pak Walikota. Warga yang tumpah-ruah tumplek-blek memenuhi alun-alun kota nampak begitu menikmati gelaran acara Grebeg gethuk ini, kendatipun desak-desakan tentu tak terhindarkan. Tapi semuanya berakhir dengan kemeriahan dan kegembiraan, terlebih saat di akhir acara, semua pemain kuda lumping dari semua sanggar seni tradisonal menari bersama, para warga pun tak sedikit yang juga ikut menari khas jatilan-an. Sungguh pemandangan yang sangat menggembirakan, rasanya tak ingin kehilangan momen indah kebersamaan seperti itu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar